
Kerinci (23/09/2025)…. Menjadi seorang guru adalah tugas mulia, namun tidak jarang di balik pengabdian itu tersimpan kisah haru yang jarang terlihat. Seperti yang dialami salah seorang guru MTsN 6 Kerinci, yang harus rela jauh dari keluarga demi menunaikan amanahnya mendidik para generasi muda.
Setiap hari selepas pulang mengajar, wajah lelahnya sedikit terobati ketika ponsel di genggaman bergetar. Ia segera menyambungkan video call dengan sang istri dan anaknya yang masih kecil. Dari balik layar, suara ceria anaknya menyapa, Abah… abah…kapan balek, dengan senyum polos yang seketika membuat matanya berkaca-kaca.
Rindu yang menumpuk semakin terasa ketika ia melihat perkembangan sang buah hati yang kini mulai bisa berjalan dan berbicara. Namun, semua hanya bisa disaksikan dari kejauhan. Ia tidak bisa mendampingi secara langsung, tidak bisa menggendong, apalagi menenangkan tangis si kecil saat rewel.
Setiap kali melihat anak saya sudah bisa melakukan hal baru, hati saya campur aduk. Senang karena anak berkembang sehat, tapi juga sedih karena saya tidak ada di sampingnya, ucapnya dengan suara bergetar.
Pengorbanan ini dijalaninya dengan ikhlas, meski rasa sepi kerap menghampiri. Baginya, mengajar bukan hanya sekadar pekerjaan, melainkan ibadah dan amanah. Walau berat, ia meyakini doa tulus anak dan istrinya di rumah adalah kekuatan terbesar untuk tetap tegar.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik dedikasi seorang guru, tersimpan perjuangan besar, bahkan sampai harus mengorbankan momen berharga bersama keluarga tercinta. Semoga pengorbanan ini berbuah berkah, baik untuk pendidikan anak bangsa maupun untuk masa depan keluarganya……(Tim Website MTsN 6 Kerinci).
Jurnalislis : Agustiawan
Fotografer : Rama Pandeska

|
252x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...