
Kerinci (03/10/2025)…. Malam hari seringkali menjadi waktu paling berat bagi seorang guru perantau. Saat hiruk-pikuk aktivitas siang telah usai, yang tersisa hanyalah keheningan. Di kamar sederhana yang menjadi tempat istirahat, sepi begitu terasa, menyisakan rindu yang mendalam pada orang-orang tercinta yang jauh di kampung halaman.
Tak ada suara canda anak-anak, tak terdengar obrolan hangat bersama keluarga, dan tak ada sosok yang bisa diajak berbagi cerita. Hanya suara detik jam dinding yang terus berjalan, seakan menjadi pengingat bahwa jarak telah memisahkan. Malam yang dingin menambah perasaan kosong, seakan menegaskan bahwa perjuangan seorang guru perantau bukan hanya soal mendidik murid di madrasah, tapi juga menahan rasa rindu yang tak pernah surut.
Dalam hening itu, bayangan wajah keluarga sering muncul silih berganti. Ada harapan besar untuk bisa mendengar kabar gembira, melihat perkembangan anak yang tumbuh tanpa banyak disaksikan secara langsung, serta merasakan hangatnya kebersamaan di rumah. Namun, kenyataan membuat semua itu harus ditahan demi pengabdian dan tanggung jawab mulia mencerdaskan generasi bangsa.
Kesepian ini bukan sekadar cerita biasa, tetapi sebuah perjuangan batin yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang rela meninggalkan kenyamanan demi mengajar di tanah rantau. Meski hati sering terasa hampa, doa dan semangat untuk terus berjuang selalu menyertai langkah. Seorang guru perantau belajar untuk kuat, bahkan ketika malam begitu sunyi, tanpa suara orang-orang yang dicintai di sisi……(Tim Website MTsN 6 Kerinci).
Jurnalislis : Agustiawan
Fotografer : Rama Pandeska
|
365x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...