
Kerinci (17/10/2025)…. Di balik senyum dan dedikasi seorang guru, tersimpan kisah yang jarang diketahui banyak orang. Begitulah kisah seorang guru perantau yang setiap hari mengajar dengan penuh semangat di madrasah jauh dari keluarganya. Ia bukan hanya berjuang untuk mencerdaskan anak bangsa, tetapi juga berjuang melawan sepi, rindu, dan lelah yang terus mengiringi langkahnya.
Pagi hari, ia sudah berangkat lebih awal, menembus kabut tipis yang menyelimuti jalan pedesaan menuju madrasah. Di pundaknya tergantung tas berisi buku pelajaran dan lembar tugas siswa, sementara di hatinya tergantung doa agar anak-anak didiknya menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak mulia. Namun di balik itu semua, tersimpan rasa rindu mendalam kepada keluarga yang jauh di kampung halaman — anak yang tumbuh tanpa pelukannya setiap hari, dan istri atau suami yang menanti kabar lewat panggilan singkat di malam hari.
“Seandainya kamu merasakan jadi aku sebentar saja,” gumamnya pelan suatu malam, di kamar kecil tempatnya beristirahat. Saat suara jangkrik menggema dan angin malam menembus jendela, ia menatap foto keluarganya yang terpajang di dinding. Matanya basah, bukan karena penyesalan, melainkan karena rindu yang tak pernah benar-benar hilang.
Hari-hari dilaluinya dengan kesabaran dan keikhlasan. Ia tahu, tak semua orang memahami beratnya menjadi guru perantau — meninggalkan kenyamanan demi pengabdian. Ia sadar bahwa panggilan tugas lebih besar dari rasa lelah yang dirasakan. Di madrasah, wajah-wajah ceria para siswa menjadi pengobat rindu, menjadi alasan untuk tetap bertahan meski hidup jauh dari keluarga dan kampung halaman.
Malam itu, sambil menyiapkan RPP dan menilai tugas-tugas siswa, ia tersenyum tipis. “Andai orang-orang tahu betapa sunyinya jadi aku,” ucapnya lirih. Tapi ia tetap tegar, karena baginya, setiap peluh dan air mata adalah bagian dari perjuangan. Guru perantau tidak meminta simpati, hanya ingin dunia tahu: bahwa di balik setiap pelajaran yang disampaikan, ada kisah pengorbanan yang tak terucap.
“Seandainya kamu merasakan jadi aku sebentar saja,” katanya dalam hati, mungkin kamu akan mengerti, bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi tapi panggilan jiwa……(Tim Website MTsN 6 Kerinci).
Jurnalis : Agustiawan
Fotografer : Rama Pandeska

|
173x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...