
Kerinci (28/10/2025) Hujan sore itu turun perlahan, membasahi tanah rantau yang semakin terasa asing bagi Pak Hasan. Dari balik jendela kamar kos kecilnya, ia menatap butiran air yang menetes di kaca, memantulkan bayangan dirinya yang tampak letih. Di tanah perantauan ini, tak ada sanak keluarga, tak ada sahabat lama yang bisa diajak berbagi cerita. Semua terasa jauh — terlalu jauh.
Pak Hasan adalah seorang guru perantau. Ia datang dari pulau seberang, meninggalkan kampung halamannya demi sebuah cita-cita: mencerdaskan anak bangsa. Sudah hampir tiga tahun ia mengabdi di madrasah kecil di pedalaman itu. Setiap pagi, ia berangkat lebih awal, menempuh jalan berlumpur, menembus kabut yang menyelimuti perbukitan. Senyum anak-anak madrasah menjadi satu-satunya alasan ia tetap bertahan.
Namun, ketika senja tiba dan madrasah mulai sepi, kesunyian datang menyapa. Tak ada suara anak kecil memanggilnya “Ayah”, tak ada istri yang menyiapkan secangkir teh hangat. Ia hanya ditemani suara hujan dan angin malam yang berdesir melewati sela-sela jendela.
Kadang, di sela waktu, Pak Hasan membuka ponselnya. Menatap foto keluarga di kampung: ibu yang mulai renta, adik yang dulu sering memeluknya sebelum berangkat merantau. “Bagaimana kabar mereka sekarang?” gumamnya lirih. Jarak dan waktu membuatnya hanya bisa mengirim kabar lewat pesan singkat yang tak pernah mampu menggantikan pelukan hangat.
Di negeri orang ini, segalanya berbeda — bahasa, adat, bahkan cara orang tersenyum. Ia sering merasa seperti bayangan yang menumpang hidup di tempat yang bukan miliknya. Pernah suatu malam, ia berjalan ke masjid kecil di ujung jalan. Di sana, ia berdoa lama sekali. Air matanya menetes diam-diam, bercampur dengan doa agar hatinya tetap kuat.
Meski begitu, di balik kesepian yang mencekam, Pak Hasan tak pernah menyesali langkahnya. Ia tahu, perjuangan seorang guru perantau bukan hanya tentang mengajar membaca dan menulis, tapi juga tentang belajar bertahan — melawan sunyi, melawan rindu, dan melawan sepi yang tak bertepi.
Dan malam itu, ketika angin kembali berhembus pelan, Pak Hasan tersenyum kecil. “Aku memang sendiri,” bisiknya lirih, “tapi aku tidak sendirian dalam pengabdian ini.”
Di antara kesunyian negeri orang, ia tetap menyalakan api kecil dalam hatinya — api ketulusan seorang guru yang mengajar dengan cinta, meski jauh dari segala yang dicintainya……(Tim Website MTsN 6 Kerinci).
Jurnalis : Agustiawan
Fotografer : Rama Pandeska

|
354x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...