
Kerinci (31/10/2025) Di balik semangat dan senyum yang selalu terpancar di wajahnya, tersimpan kerinduan mendalam seorang guru perantau yang jauh dari keluarga. Setiap pagi ia melangkah ke madrasah dengan hati tabah, menjalankan tugas mulia mendidik anak bangsa, meski jauh dari rumah dan tanah kelahirannya. Di tanah rantau yang berbeda adat dan budayanya, ia berusaha tegar, menutup rasa sepi dengan kesibukan mengajar dan berbaur bersama siswa-siswinya.
Namun, ketika sore menjelang dan langit mulai meredup, kesunyian sering kali datang tanpa diundang. Dalam keheningan malam di kamar sewa yang sederhana, ia menundukkan kepala, melipat tangan, dan berdoa lirih. "Ya Allah, jika Engkau berkenan, jadikanlah bulan ini bulan terakhir aku di kampung orang. Izinkan aku pulang, menatap wajah orang tua, mencium tanah kelahiran, dan mengabdi di tempat asalku sendiri."
Doa itu menjadi pengiring setiap sujudnya. Rasa rindu yang kian menyesakkan, ditambah kabar keluarga di kampung yang kadang datang terlambat, membuat hati seorang guru perantau kian rapuh. Ia bukan hanya berjuang untuk menunaikan kewajiban, tetapi juga melawan kesepian yang tak semua orang bisa pahami.
Meski demikian, semangatnya untuk tetap memberi yang terbaik bagi madrasah tempatnya mengajar tidak pernah pudar. Ia percaya, setiap peluh dan air mata di perantauan adalah bagian dari perjalanan suci seorang pendidik. Ia meyakini, suatu hari nanti, doanya akan dijawab—dan langkahnya akan kembali berpijak di tanah kelahiran, bukan lagi sebagai perantau, melainkan sebagai pahlawan ilmu yang pulang dengan hati penuh syukur.
Kini, setiap azan yang terdengar menjadi pengingat baginya untuk tetap sabar dan kuat. Karena di balik kesunyian seorang guru perantau, tersimpan ketulusan yang tak terukur—dan harapan besar bahwa bulan ini, semoga benar menjadi bulan terakhir ia menatap langit asing di kampung orang (Tim Website MTsN 6 Kerinci).
Jurnalis : Agustiawan
Fotografer : Rama Pandeska

|
395x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...