
Kerinci 04/11/2025 Rindu akan suasana sekolah asal seringkali menjadi beban tersendiri bagi seorang pendidik atau siswa yang berpindah ke daerah dengan budaya yang sangat berbeda. Begitu pula perasaan yang kini dirasakan oleh seorang guru perantau yang tengah berjuang menyesuaikan diri di lingkungan baru. Sekolah asal yang dulu penuh dengan kehangatan, kebersamaan, dan nilai-nilai budaya yang sudah mengakar kini hanya tinggal kenangan yang melekat erat di hati.
Di tempat yang baru, suasananya terasa begitu berbeda. Budaya, adat, bahkan cara berinteraksi dengan sesama seolah berada di dua dunia yang bertolak belakang. Perbedaan 180 derajat itu bukan hanya tampak dari bahasa dan kebiasaan, namun juga dari cara berpikir dan memandang sesuatu. Apa yang dianggap sopan di daerah asal, bisa saja disalahartikan di tempat baru. Begitu pula sebaliknya, apa yang dianggap biasa di daerah baru, terasa janggal bagi pendatang.
Upaya untuk beradaptasi tentu dilakukan. Namun, benturan pemahaman kerap tak bisa dihindari. Bukan karena tidak ingin menyatu, melainkan karena setiap orang membawa warisan budaya yang sudah tertanam dalam dirinya sejak kecil. Di sinilah rasa rindu itu semakin kuat—rindu pada tempat di mana segala hal terasa akrab dan mudah dipahami tanpa perlu banyak penjelasan.
Meski demikian, perjalanan di tanah baru tetap menjadi bagian dari proses pembelajaran. Setiap perbedaan adalah cermin untuk memahami lebih dalam arti toleransi dan penerimaan. Namun dalam hati kecil, kerinduan akan suasana sekolah asal—dengan budaya yang begitu kental dan penuh makna—akan selalu menjadi bagian yang sulit tergantikan (Tim Website MTsN 6 Kerinci).
Jurnalis : Agustiawan
Fotografer : Rama Pandeska
|
374x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...