
KERINCI (MTsN 6 Kerinci) - Gema takbir di Desa Tanjung Pauh Hilir tidak hanya menandai berakhirnya bulan suci Ramadan, tetapi juga menjadi dimulainya ritual kolosal yang telah bertahan selama berabad-abad: Syukuran Keliling. Tradisi unik ini melibatkan mobilisasi warga yang bergerak secara kolektif dari satu rumah ke rumah lainnya untuk memanjatkan doa dan menyantap hidangan Lebaran bersama.
Berbeda dengan kunjungan santai, tradisi ini memiliki tatanan yang dihormati secara turun-temurun. Kelompok warga memulai perjalanan dari rumah tetua adat atau imam masjid, kemudian bergerak secara sistematis menyisir setiap kediaman warga. Di setiap persinggahan, nuansa religius kental terasa saat lantunan doa keselamatan menggema, mendoakan keberkahan bagi penghuni rumah.
Bagi masyarakat setempat, momen ini adalah bentuk nyata dari filosofi “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Kehadiran seluruh warga ke rumah setiap tetangga dianggap sebagai bentuk penghormatan tertinggi yang menghapus jarak sosial.
Bagi para perantau, tradisi ini adalah alasan utama mereka menempuh perjalanan jauh menuju kampung halaman. Rina Wati (54), seorang warga Tanjung Pauh Hilir yang kini menetap di Jambi, mengaku bahwa suasana syukuran keliling ini tidak dapat ditemukan di tempat lain.
“Di kota besar, kita mungkin hanya kenal tetangga sebelah rumah. Tapi di sini, lewat tradisi keliling, saya bisa kembali mengenal siapa sepupu jauh saya, siapa orang tua di ujung desa. Ada rasa haru saat kita semua duduk lesehan dan didoakan bersama. Itulah yang membuat saya selalu rindu pulang ke Kerinci,” ungkap Rina dengan mata berkaca-kaca.

Kepala Desa Tanjung Pauh Hilir menegaskan bahwa syukuran dari rumah ke rumah ini adalah mekanisme pertahanan sosial yang ampuh. Di era digital saat ini, tradisi ini memaksa setiap individu untuk bertatap muka, berjabat tangan, dan saling mendengarkan secara langsung.
“Ini adalah identitas kami. Meski zaman berubah, langkah kaki kami menuju rumah tetangga tidak boleh berhenti. Ini bukan soal hidangan yang disajikan, melainkan soal memastikan tidak ada satu pun warga kami yang merasa sendirian di hari kemenangan,” tuturnya.
Tradisi ini biasanya ditutup dengan doa bersama di ujung kampung, menandai selesainya rangkaian kunjungan dan memperbarui janji kerukunan antarwarga untuk satu tahun ke depan.
Tim Humas MTsN 6 Kerinci
Penulis : Nila Diani, S,PdI
|
54x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...