
Kerinci, 12/06/2026 Hari libur biasanya menjadi waktu bagi para guru untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar melepas penat setelah menjalani rutinitas pembelajaran. Namun, bagi sebagian guru, kecintaan terhadap madrasah terkadang jauh lebih besar daripada keinginan menikmati hari libur. Mereka tetap datang, memastikan setiap sudut madrasah tetap terawat, seolah tempat itu telah menjadi bagian dari hidupnya.
Pagi itu, suasana madrasah begitu sunyi. Ruang-ruang kelas terkunci rapat, halaman tampak lengang tanpa riuh tawa peserta didik, dan tiang bendera berdiri kokoh ditemani semilir angin yang menggoyangkan dedaunan. Hanya suara burung yang sesekali memecah kesunyian.
Di tengah keheningan itu, seorang guru melangkahkan kaki perlahan menyusuri lorong-lorong madrasah. Tatapannya menyapu setiap ruang kelas yang selama bertahun-tahun menjadi saksi pengabdiannya. Dinding yang dipenuhi hasil karya siswa, papan tulis yang tak lagi dipenuhi coretan pelajaran, hingga halaman tempat anak-anak berlarian saat waktu istirahat.
Ia berhenti sejenak di depan kelas yang pernah menjadi tempatnya mengajar. Senyum tipis tersungging di wajahnya, meski mata itu tampak berkaca-kaca. Begitu banyak kenangan yang tak mungkin dapat dihitung dengan angka. Ada tawa, tangis, keberhasilan, kegagalan, dan doa-doa yang selalu dipanjatkan demi masa depan anak-anak didiknya.
Baginya, madrasah bukan sekadar tempat bekerja. Madrasah adalah rumah kedua, tempat ia mengabdikan usia, tenaga, pikiran, bahkan sebagian besar waktunya. Di tempat itulah ia menyaksikan generasi demi generasi tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Hari itu terasa berbeda. Tidak ada rapat, tidak ada kegiatan belajar mengajar, dan tidak ada upacara. Hanya dirinya sendiri yang berjalan perlahan mengelilingi lingkungan madrasah, seakan ingin mengabadikan setiap sudut dalam ingatannya.
Sesekali ia menyentuh dinding kelas, merapikan pot bunga yang mulai miring, lalu memandang lapangan tempat upacara berlangsung setiap Senin pagi. Semua tampak biasa, tetapi bagi dirinya, setiap sudut memiliki cerita yang tak akan pernah usai.
Tak terasa, langkahnya membawanya hingga ke gerbang madrasah. Ia berhenti. Menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.
Di hadapannya berdiri madrasah yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Tempat yang mengajarkannya arti kesabaran, keikhlasan, dan pengorbanan. Tempat yang telah menghadirkan ribuan wajah peserta didik dengan cita-cita yang berbeda-beda.
Dengan perlahan ia mengangkat tangan, melambaikan tangan ke arah bangunan yang selama ini begitu ia cintai. Tidak ada seorang pun yang melihat lambaian itu. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada ucapan perpisahan. Hanya angin yang seolah menjadi saksi bisu atas salam terakhir seorang guru kepada tempat pengabdiannya.
Lambaian itu bukan sekadar gerakan tangan. Ia adalah ungkapan terima kasih atas perjalanan panjang yang telah dilalui. Sebuah salam perpisahan yang sarat dengan rasa syukur, haru, dan cinta yang tak pernah berkurang.
Air mata yang jatuh perlahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa pengabdian sejati selalu meninggalkan jejak yang mendalam di hati. Sebab, seorang guru tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menitipkan sebagian hidupnya di setiap ruang kelas yang pernah ia masuki.
Mungkin esok akan hadir guru-guru baru yang melanjutkan estafet pendidikan. Murid-murid baru akan memenuhi ruang kelas dengan tawa dan semangat belajar. Waktu akan terus berjalan, dan madrasah akan tetap berdiri dengan segala dinamikanya.
Namun, jejak pengabdian seorang guru tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia akan hidup dalam doa-doa para murid yang pernah diajarnya, dalam keberhasilan mereka meraih cita-cita, serta dalam setiap nilai kebaikan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena sesungguhnya, guru yang mencintai madrasah dengan sepenuh hati tidak pernah benar-benar pergi. Raganya mungkin meninggalkan gerbang sekolah, tetapi cinta, ketulusan, dan pengabdiannya akan selalu tinggal di setiap sudut madrasah yang pernah menjadi rumah keduanya.
Dan pada hari libur yang sunyi itu, tanpa keramaian dan tanpa seremoni, sebuah lambaian sederhana menjadi penutup dari perjalanan panjang seorang pendidik. Lambaian yang mengajarkan bahwa pengabdian bukan diukur dari seberapa lama seseorang bekerja, melainkan dari seberapa besar cinta yang ia tinggalkan untuk tempat yang telah ia abdikan sepanjang hidupnya. (Team Humas dan Informasi Digital MTsN 6 Kerinci)
Kontributor….. Agustiawan
|
86x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...