
Kerinci, 25/09/2026 Kemajuan teknologi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Kehadiran telepon pintar, media sosial, berbagai platform digital, hingga kecerdasan buatan telah memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi dan berkomunikasi. Namun di balik berbagai manfaat tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang patut menjadi perhatian bersama: apakah kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan pengawasan dan pendidikan karakter justru akan menggerus kualitas generasi muda?
Pertanyaan ini semakin relevan ketika dunia pendidikan menghadapi tantangan berupa menurunnya daya serap sebagian siswa terhadap pembelajaran serta perubahan perilaku dan karakter. Anak-anak dan remaja saat ini tumbuh di tengah derasnya arus informasi. Dalam hitungan detik, mereka dapat mengakses berbagai macam konten yang belum tentu sesuai dengan usia, kebutuhan, maupun nilai-nilai yang sedang mereka bangun.
Setelah selesai mengikuti kegiatan di sekolah, sebagian siswa kembali berhadapan dengan dunia digital tanpa pendampingan yang memadai. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk membaca, mengulang pelajaran, berinteraksi bersama keluarga, beribadah, atau bermain secara sehat, terkadang lebih banyak tersita oleh gawai dan berbagai konten digital.
Dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung. Namun dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi kemampuan berkonsentrasi, minat membaca, kedisiplinan, cara berkomunikasi, hingga pembentukan karakter. Siswa bisa saja lebih cepat tertarik terhadap konten singkat dan hiburan dibandingkan membaca materi pembelajaran yang membutuhkan konsentrasi lebih panjang.
Di sinilah tantangan pendidikan semakin besar.
Sekolah memang memiliki peran penting dalam membentuk pengetahuan dan karakter peserta didik. Guru berusaha menanamkan disiplin, adab, tanggung jawab, kejujuran, kepedulian, serta semangat belajar. Namun pendidikan tidak berhenti ketika bel pulang sekolah berbunyi.
Rumah dan lingkungan pergaulan memiliki pengaruh yang tidak kalah besar.
Ketika siswa meninggalkan gerbang madrasah, tanggung jawab pembentukan karakter tidak serta-merta selesai. Orang tua dan keluarga menjadi benteng berikutnya. Pendampingan terhadap penggunaan gawai, pemilihan tontonan, pengaturan waktu belajar dan istirahat, serta pembiasaan berkomunikasi secara langsung menjadi bagian penting dalam menjaga perkembangan anak.
Teknologi sendiri bukanlah musuh. Teknologi dapat menjadi sarana luar biasa untuk belajar, berkarya, mencari informasi, mengembangkan kreativitas, bahkan membuka peluang bagi generasi muda untuk mengenalkan potensi daerahnya kepada dunia.
Yang menjadi persoalan adalah ketika teknologi digunakan tanpa kendali, tanpa literasi digital, dan tanpa pendampingan.
Generasi muda Kerinci memiliki potensi besar. Mereka tumbuh di tengah kekayaan alam, budaya, adat, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, perkembangan teknologi seharusnya tidak membuat mereka kehilangan identitas dan nilai-nilai tersebut.
Jangan sampai anak-anak lebih mengenal tokoh-tokoh di dunia maya daripada orang-orang hebat di lingkungan mereka sendiri. Jangan sampai mereka lebih hafal berbagai tren media sosial daripada memahami sejarah, budaya, adat, dan kearifan lokal daerahnya.
Lebih jauh lagi, jangan sampai kemajuan teknologi membuat generasi muda semakin jauh dari adab, sopan santun, kepedulian sosial, serta semangat menuntut ilmu.
Lantas, apakah teknologi akan terus menggerus anak muda kita sebagai penerus bangsa Indonesia, khususnya generasi muda Kerinci di masa mendatang?
Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah bersama-sama mengarahkan penggunaannya.
Teknologi tidak harus dijauhi. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk mengendalikannya. Anak perlu diajarkan bahwa gawai adalah alat, bukan penguasa waktu mereka. Internet adalah sumber informasi, bukan tempat untuk menghabiskan seluruh waktu. Media sosial adalah sarana berkomunikasi, bukan ukuran nilai diri.
Sekolah juga perlu terus memperkuat pendidikan karakter bersamaan dengan literasi digital. Siswa tidak hanya perlu diajarkan bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana bersikap ketika menggunakan teknologi.
Sebab kecerdasan tanpa karakter dapat kehilangan arah. Kemampuan menggunakan teknologi tanpa tanggung jawab dapat menjadi persoalan. Sebaliknya, generasi yang memiliki ilmu, karakter, akhlak, kreativitas, dan kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijak akan menjadi kekuatan besar bagi masa depan.
Kerinci tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar menggunakan teknologi. Kerinci membutuhkan generasi yang cerdas, berkarakter, beradab, memiliki identitas, mencintai daerahnya, serta mampu membawa nama baik daerah dan bangsa di tengah perubahan zaman.
Maka, sebelum kita bertanya bagaimana teknologi akan membentuk masa depan anak-anak kita, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab bersama:
Sudahkah kita sebagai orang tua, guru, dan masyarakat mempersiapkan anak-anak untuk menjadi pengendali teknologi, bukan justru menjadi generasi yang dikendalikan oleh teknologi?
Masa depan generasi muda Indonesia, termasuk anak-anak Kerinci, tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang mereka kuasai, tetapi juga oleh seberapa kuat karakter yang mereka miliki ketika menggunakannya. (Team Humas dan Informasi Digital MTsN 6 Kerinci)
Kontributor….. Agustiawan
|
29x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...