
Kerinci (10/10/2025)…. Di tengah dinginnya udara pagi di lereng Gunung Kerinci, seorang guru perantau tetap berjuang menjalankan tugasnya meski tubuhnya dilanda demam. Sendirian di rumah dinas yang sederhana, ia hanya ditemani secangkir teh hangat dan tumpukan buku pelajaran yang harus ia siapkan untuk esok hari.
Demam yang sejak kemarin malam mulai dirasakan tak menyurutkan semangatnya untuk tetap hadir di madrasah. Dengan langkah pelan dan wajah pucat, ia tetap mencoba tersenyum di hadapan para siswa. Guru tidak boleh menyerah, walau badan lemah, ucapnya lirih ketika salah satu siswanya bertanya mengapa ia tampak lesu pagi itu.
Sebagai seorang perantau, jauh dari keluarga dan kampung halaman, rasa rindu sering kali menjadi beban tersendiri. Terlebih di saat sakit, ketika tak ada tangan hangat yang menyiapkan obat atau sekadar bertanya, Sudah makan belum? Ia hanya bisa menatap layar ponsel, menunggu pesan dari orang-orang tercinta yang mungkin juga sedang sibuk di tanah kelahiran.
Sepulang mengajar, ia kembali ke kamar sempit yang sunyi. Hanya suara hujan di luar jendela yang menemani. Di antara rasa nyeri dan dingin yang menggigil, ia masih sempat menuliskan rencana pembelajaran minggu depan. Tugas guru tidak berhenti meski tubuh tak kuat, katanya dalam hati.
Kisah guru perantau ini menjadi potret nyata pengabdian seorang pendidik. Di balik senyum dan ketulusan, tersimpan perjuangan yang tak semua orang tahu. Ia berharap kesehatannya segera pulih, bukan hanya demi dirinya, tetapi demi anak-anak didiknya yang selalu menjadi alasan untuk tetap bertahan di tanah rantau.
Meski demam dan sepi menyelimuti, semangatnya tetap menyala—karena bagi seorang guru sejati, mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati……(Tim Website MTsN 6 Kerinci).
Jurnalis : Agustiawan
Fotografer : Rama Pandeska
|
227x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...