
Sebagai wujud komitmen dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari, MTsN 6 Kerinci secara konsisten menerapkan budaya madrasah berkarakter pesantren. Salah satu bentuk implementasinya adalah penerapan tata cara bersalaman yang sesuai syariat Islam, dimana siswa laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak diperbolehkan bersentuhan langsung, termasuk dalam interaksi dengan guru yang bukan mahram.
Kebijakan yang telah berjalan efektif sejak awal tahun pelajaran 2025/2026 ini merupakan bagian dari program "Madrasah Berbasis Pesantren" yang diusung oleh Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, H. Afrial, S.Pd.I. "Ini bukan sekadar aturan, tetapi pembentukan karakter islami. Kami ingin siswa terbiasa menjaga aurat dan hubungan sosial yang sesuai syariat sejak dini," jelas H. Afrial.
Beberapa poin penting dalam penerapan budaya ini:
1. Salam tanpa sentuhan antara siswa laki-laki dan perempuan
2. Alternatif salam dengan mengatupkan tangan di dada sambil mengucapkan salam
3. Pembinaan intensif tentang konsep mahram dan batasan pergaulan
4. Keteladanan guru dalam menerapkan aturan tersebut

Zelia, siswa kelas IX, menyambut positif aturan ini. "Awalnya agak canggung, tapi sekarang sudah terbiasa. Kami jadi lebih sadar untuk menjaga pergaulan sesuai ajaran agama," ujarnya.
Kepala MTsN 6 Kerinci, Hj. Tistiarni, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa aturan ini diterapkan dengan pendekatan edukatif. "Kami tidak serta merta melarang, tetapi memberikan pemahaman yang mendalam tentang hikmah di balik aturan ini. Alhamdulillah respon siswa sangat positif," ungkapnya.
Dampak positif dari penerapan budaya ini sudah terlihat dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan madrasah, dimana tercipta suasana yang lebih islami dan penuh rasa hormat antar seluruh warga madrasah.
Jurnalis/Editor : Rian Putra H, M.Pd
|
425x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...