
Kerinci, 09/12/2025 Di sebuah desa kecil di lereng pegunungan Kerinci, hiduplah seorang guru bernama Pak Raka. Setiap pagi ia terbangun oleh desir angin dingin yang menusuk tulang, jauh lebih dingin dibandingkan kota-kota di bawah sana. Udara pegunungan memang selalu begitu—dingin, sepi, dan penuh kesunyian. Di rumah kayunya yang sederhana, hanya suara angin yang menemani malam-malam panjangnya.
Pak Raka hidup sendirian di desa itu. Istrinya telah lama merantau untuk bekerja di kota, demi mencari tambahan rezeki, sementara anaknya tinggal bersama nenek di kampung tetangga. Jarak dan keadaan membuatnya jarang berjumpa keluarga. Namun setiap kali ia menatap foto kecil anaknya di meja belajar, ia seperti menemukan kembali sedikit kekuatan untuk bertahan.
Meski hidup sendiri dan jauh dari keluarga, tanggung jawab sebagai guru tak pernah ia tinggalkan. Setiap hari, tanpa peduli kabut tebal atau rintik hujan yang sering turun mendadak, Pak Raka melangkah menapaki jalan berbatu menuju madrasah kecil tempat ia mengajar. Kadang sepatu yang ia pakai basah kuyup, kadang jarinya mati rasa karena dingin, tapi tak sekalipun ia absen tanpa alasan.
Baginya, para siswa adalah cahaya yang membuat hidupnya tidak sepenuhnya gelap. Ia selalu berkata dalam hati: “Jika aku menyerah hari ini, mungkin ada satu mimpi mereka yang ikut padam.”
Di madrasah, ia mengajar dengan sepenuh jiwa. Ia tahu banyak siswanya yang datang dari keluarga sederhana, bahkan ada yang harus berjalan jauh melewati kebun dan sungai hanya untuk sampai ke kelas. “Kalau mereka saja sanggup berjuang demi belajar,” pikirnya, “maka aku, gurunya, harus dua kali lebih kuat.”
Tiap sore setelah mengajar, ia duduk sendirian di beranda rumah, ditemani secangkir kopi panas yang pelan-pelan mendingin sebelum habis. Sering kali ia menahan rasa rindu kepada keluarga yang tak bisa ia peluk. Sering pula ia bertanya kepada dirinya sendiri apakah perjuangannya dapat membuat hidup mereka lebih baik. Namun ia selalu kembali pada satu tekad: berjuang tanpa henti demi masa depan keluarga dan masa depan siswanya.
Pada malam-malam tertentu, ketika angin pegunungan bertiup lebih kencang dari biasanya, Pak Raka merapatkan selimut tipis di tubuhnya. Dingin bukan hal yang baru baginya, tapi kesepian tetap saja sulit ia lawan. Di balik kesunyian itu, ia hanya berharap satu hal: semoga kelak anaknya menjadi orang yang lebih bahagia darinya, dan semoga murid-murid yang ia didik dapat tumbuh menjadi generasi yang sukses, yang mampu mengubah hidup mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka.
Setiap kali mata lelahnya hampir terpejam, ia membisikkan doa lirih, “Ya Allah, kuatkan langkahku… Jangan biarkan perjuanganku sia-sia.”
Dan besoknya, ketika matahari kembali menyembul dari balik bukit, ia bangun lagi. Menapaki hari dengan tekad yang sama, meski tubuh letih dan hati kadang goyah. Karena seorang guru seperti dirinya tak pernah benar-benar hidup untuk dirinya sendiri—ia hidup untuk harapan, untuk anaknya yang menunggu di kejauhan, dan untuk setiap siswa yang percaya bahwa masa depan bisa diraih lewat pendidikan.
Di tengah dingin yang menusuk, kesepian yang menghimpit, dan jarak yang memisahkan dari keluarga, Pak Raka tetap berdiri teguh. Sebab ia tahu, kadang orang yang paling sunyi adalah mereka yang paling banyak menyalakan cahaya bagi orang lain. (Tim Website MTsN 6 Kerinci).
Jurnalis : Agustiawan
Fotografer : Rama Pandeska
|
331x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...