Selamat Datang di Website Resmi MTSN 6 Kerinci # Jln. Padang Baru, Desa Permai Baru, Tanjung Pauh Hilir, Kecamatan Danau Kerinci Barat, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi # MTsN 6 Kerinci Menerima Peserta Didik Baru Tapel 2025/2026 # Madrasah Hebat Bermartabat # Selamat Datang di Website Resmi MTsN 6 Kerinci
Diposting Pada: Jumat, 22 Mei 2026

Efektifkah Kebijakan WFH bagi Sekolah dengan Sistem Belajar 6 Hari?

Efektifkah Kebijakan WFH bagi Sekolah dengan Sistem Belajar 6 Hari?

Kerinci, 22 Mei 2026. Kebijakan Work From Home (WFH) yang belakangan diterapkan pada sejumlah instansi pendidikan kembali menimbulkan berbagai tanggapan dari kalangan guru, orang tua, hingga peserta didik. Di satu sisi kebijakan tersebut dianggap sebagai solusi untuk mengurangi kepadatan aktivitas dan menyesuaikan kondisi tertentu yang sedang terjadi, namun di sisi lain muncul pertanyaan besar mengenai efektivitas penerapannya, terutama bagi sekolah maupun madrasah yang hingga saat ini masih menerapkan sistem pembelajaran enam hari kerja.
Perbedaan sistem belajar antara sekolah lima hari dan enam hari ternyata memunculkan dampak yang tidak sama. Sekolah yang telah menerapkan pembelajaran lima hari cenderung tidak mengalami perubahan signifikan ketika kebijakan WFH diberlakukan. Hal itu karena aktivitas belajar mereka memang sudah tersusun dari Senin hingga Jum’at, sehingga akhir pekan benar-benar menjadi waktu istirahat bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Namun kondisi berbeda dirasakan oleh sekolah dan madrasah yang masih menjalankan proses pembelajaran enam hari. Dalam praktiknya, kegiatan daring dilaksanakan pada hari Jum’at, sementara hari Sabtu siswa tetap diwajibkan hadir ke sekolah seperti biasa. Situasi inilah yang kemudian menimbulkan kekhawatiran baru di lingkungan pendidikan.
Sejumlah guru mengaku cemas terhadap kemungkinan menurunnya tingkat kehadiran siswa pada hari Sabtu. Setelah mengikuti pembelajaran daring pada hari Jum’at, sebagian siswa dikhawatirkan menganggap Sabtu sebagai bagian dari akhir pekan sehingga motivasi untuk kembali datang ke sekolah menjadi berkurang. Terlebih lagi, tidak sedikit peserta didik yang harus menempuh perjalanan jauh menuju madrasah sehingga perubahan pola belajar dapat mempengaruhi kedisiplinan mereka.
Fenomena tersebut mulai menjadi bahan diskusi di berbagai lingkungan sekolah. Banyak tenaga pendidik menilai bahwa kebijakan yang dibuat di tingkat atas terkadang belum sepenuhnya mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan. Sistem pendidikan di Indonesia yang masih beragam membuat penerapan satu kebijakan yang sama belum tentu menghasilkan dampak yang sama pula.
Bagi madrasah dengan sistem enam hari belajar, ritme kegiatan siswa sebenarnya sudah terbentuk sejak awal tahun ajaran. Ketika pola itu berubah secara mendadak melalui kombinasi daring dan tatap muka, maka diperlukan penyesuaian yang tidak mudah. Sebagian guru bahkan menyebut bahwa pembelajaran daring pada hari Jum’at sering kali tidak berjalan maksimal karena siswa menganggap belajar dari rumah sebagai hari santai.
Selain itu, pengawasan orang tua terhadap kegiatan belajar daring juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua wali murid mampu mendampingi anak-anak mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Akibatnya, materi yang diberikan guru tidak sepenuhnya terserap dengan baik oleh siswa. Kondisi tersebut tentu dapat berdampak terhadap kualitas pembelajaran secara keseluruhan.
Di sisi lain, sekolah yang telah menerapkan lima hari belajar justru terlihat lebih siap menghadapi kebijakan semacam ini. Jadwal yang lebih ringkas membuat pengaturan pembelajaran daring maupun luring menjadi lebih fleksibel. Para siswa pun tidak merasa pola aktivitas mereka berubah terlalu drastis.
Pengamat pendidikan menilai bahwa pemerintah maupun para pemangku kebijakan perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh sebelum menerapkan kebijakan yang bersifat umum kepada seluruh satuan pendidikan. Perbedaan kondisi geografis, budaya sekolah, hingga sistem belajar yang digunakan seharusnya menjadi pertimbangan penting agar kebijakan benar-benar efektif dan tidak justru menimbulkan persoalan baru.
Para guru berharap kebijakan pendidikan tidak hanya terlihat baik di atas kertas, tetapi juga benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah kebijakan bukan hanya diukur dari pelaksanaannya, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan oleh siswa, guru, dan seluruh warga sekolah.
Jika tidak dikaji secara mendalam, maka dikhawatirkan kebijakan WFH bagi sekolah dengan sistem enam hari belajar justru akan menurunkan efektivitas pembelajaran dan kedisiplinan siswa. Sementara itu, sekolah lima hari kemungkinan besar tetap berjalan normal tanpa perubahan berarti. Perbedaan inilah yang kini menjadi perhatian banyak pihak di dunia pendidikan. (Team Humas dan Informasi Digital MTsN 6 Kerinci)
Kontributor….. Agustiawan

 


71x
Dibaca
.

Berita Lainnya:

  1. Berkenalan dengan Ahmad Nabil Hernando, MC Bahasa Indonesia pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H 64x dibaca
  2. Jalin Harmoni dengan Warga, PTK MTsN 6 Kerinci Hadiri Resepsi Pernikahan Masyarakat Sekitar 672x dibaca
  3. Siswa MTsN 6 Kerinci Gunakan Media Gambar dalam Diskusi IPA 1066x dibaca
  4. Waka Akademik MTsN 6 Kerinci Instruksikan Pelaksanaan Remedial bagi Siswa yang Belum Tuntas, Ini Dia Tata Caranya 744x dibaca
  5. Shalat Dhuha Bersama Dipimpin Rafif, Siswa Kelas VIII A MTsN 6 Kerinci 232x dibaca

Go Back To Home

Jadwal Sholat

Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya

Memuat tanggal...

Imsak--:--
Subuh--:--
Terbit--:--
Dhuha--:--
Dzuhur--:--
Ashar--:--
Maghrib--:--
Isya--:--

Peta Lokasi MTSN 6 Kerinci

Mars Madrasah