
Kerinci, 05/06/2026 Perkembangan teknologi digital telah membawa banyak perubahan dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pelaksanaan ujian akhir di sekolah dan madrasah. Jika dahulu ujian dilaksanakan menggunakan kertas dan pensil, kini sebagian besar satuan pendidikan mulai memanfaatkan telepon pintar (HP) atau gawai sebagai media pelaksanaan ujian. Langkah ini tentu merupakan bentuk kemajuan yang patut diapresiasi karena mampu menghemat penggunaan kertas, mempercepat proses koreksi, serta memudahkan pengelolaan data hasil ujian.
Pelaksanaan ujian berbasis gawai juga memberikan pengalaman baru bagi peserta didik untuk lebih dekat dengan pemanfaatan teknologi dalam kegiatan pembelajaran. Siswa dapat mengakses soal secara cepat, hasil ujian dapat direkap secara otomatis, dan pihak sekolah dapat mengurangi berbagai biaya operasional yang selama ini diperlukan untuk penggandaan naskah soal.
Namun demikian, kemajuan teknologi bukan berarti tidak memiliki dampak negatif. Berbagai persoalan mulai terlihat selama pelaksanaan ujian akhir berbasis HP atau gawai. Salah satu fenomena yang cukup memprihatinkan adalah masih banyak siswa yang tidak memanfaatkan kesempatan ujian dengan sebaik-baiknya. Sebagian peserta didik terlihat menjawab soal secara asal-asalan tanpa membaca dan memahami pertanyaan yang diberikan.
Kondisi tersebut dapat dilihat dari waktu pengerjaan yang sangat singkat dibandingkan dengan jumlah soal yang harus diselesaikan. Beberapa siswa bahkan menyelesaikan ujian jauh lebih cepat dari waktu yang semestinya, padahal soal yang diberikan membutuhkan ketelitian dan pemahaman materi yang cukup. Akibatnya, hasil yang diperoleh tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya dari peserta didik.
Fenomena ini menjadi perhatian para guru karena tujuan utama ujian bukan sekadar mengisi jawaban dan memperoleh nilai, melainkan sebagai sarana untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari selama satu semester. Ketika siswa mengerjakan soal tanpa kesungguhan, maka hasil evaluasi menjadi kurang akurat dan tidak dapat dijadikan gambaran yang sebenarnya tentang pencapaian belajar mereka.
Selain itu, kemudahan penggunaan gawai terkadang membuat sebagian siswa menganggap ujian sebagai kegiatan biasa yang tidak memerlukan persiapan matang. Padahal teknologi hanyalah alat bantu, sedangkan keberhasilan belajar tetap ditentukan oleh kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemauan peserta didik untuk berusaha secara maksimal.
Para pendidik berharap agar pelaksanaan ujian berbasis teknologi tidak hanya menjadi simbol modernisasi pendidikan, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas proses belajar siswa. Oleh karena itu, diperlukan pembinaan karakter, pengawasan yang baik, serta kesadaran dari peserta didik bahwa ujian merupakan kesempatan untuk menunjukkan hasil belajar yang sesungguhnya.
Kemajuan teknologi seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan mutu pendidikan, bukan sebaliknya. Dengan penggunaan HP atau gawai yang bijaksana, diharapkan siswa dapat memanfaatkan teknologi secara positif, mengerjakan ujian dengan penuh tanggung jawab, dan menjadikan hasil yang diperoleh sebagai cerminan kemampuan diri yang sebenarnya. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat yang digunakan, tetapi juga oleh kesungguhan setiap peserta didik dalam menjalani proses pembelajaran dan evaluasi yang diberikan. (Team Humas dan Informasi Digital MTsN 6 Kerinci)
Kontributor….. Agustiawan
|
99x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...